Sunday, 14 January 2018

MAKHLUK YANG AKAN MUNCUL SEBELUM AKHIR ZAMAN ATAU SEBELUM KIAMAT!

Makhluk yang akan muncul pada akhir Zaman Dilihat dalam kamus bahasa, maka kita akan menemukan istilah “buraq” yang diartikan sebagai “Binatang kendaraan Nabi Muhammad Saw”,Binatang ini berbentuk seperti kuda bersayap kiri dan kanan.


Dalam pemakaian kata umum, “buraq” itu berarti burung cendrawasih, yang oleh kamus diartikan dengan burung dari surga (bird of paradise)..Saat ini, kita akan membahas tentang Makhluk Yang akan muncul Pada Akhir Zaman dan berikut Inilah makhluk makhluk yang akan muncul pada saat akhir zaman.


1.Dabbat al-Ard



Dabbat al-Ard adalah sebuah nama yang berarti binatang buas (monster) yang muncul dari perut bumi. Dalam Islam binatang ini masuk sebagai salah satu tanda sebelum datangnya Hari Penghakiman.

Binatang melata ini akan keluar di kota Mekah dekat gunung Shafa, setelah peristiwa Matahari terbit dari Barat, ia akan berbicara dengan kata-kata yang fasih dan jelas.

Dabbat al-ard ini akan membawa tongkat Musa dan cincin Sulaiman. Ibnu Jurayj mengatakan bahwa Ibnu Zubair menjabarkan binatang ini dengan rinci, “Kepalanya seperti kepala kerbau, matanya seperti mata babi, telinganya seperti telinga gajah, tanduknya seperti tanduk rusa jantan, lehernya seperti leher burung unta, dadanya seperti dada singa, warna kulitnya seperti warna kulit harimau, panggulnya seperti panggul kucing, ekornya seperti ekor biri-biri jantan dan kakinya seperti kaki unta. Di antara sepasang persendiannya sejarak 12 ukuran garis lurus.


2.Ya’juj dan Ma’ju


Ya’juj dan Ma’juj adalah sebutan dari suatu bangsa yang muncul pada akhir zaman, yang memiliki kekuatan sebagai perusak dan penghancur kehidupan di muka bumi. Kisah tentang kaum ini terdapat dalam ajaran agama Yahudi, Kitab Kejadian umat Kristen dan kitab suci umat Islam, Al-Qur’an.Mengenai sekelompok manusia Ya’juj dan Ma’juj dalam tradisi religius digambarkan dalam istilah yang ambigu (tidak jelas).

Ada yang menyebutnya sebagai bentuk manusia, mahkluk berbentuk raksasa, suatu bangsa atau negeri. Ya’juj dan Ma’juj juga muncul dalam banyak mitos dan cerita rakyat di banyak negara.

Ya’juj dan Ma’juj adalah dua bangsa yang sangat besar jumlahnya. Mereka masih keturunan Adam, sebagaimana di jelaskan dalam hadits shahih Bukhari dan Muslim. Walaupun mereka dari jenis manusia keturunan Adam, namun mereka memiliki sifat khas yang berbeda dari manusia biasa.

Ciri utama mereka adalah perusak dan jumlah mereka yang sangat besar sehingga ketika mereka turun dari gunung seakan-akan air bah yang mengalir, tidak pandai berbicara dan tidak fasih, bermata kecil (sipit), berhidung kecil, lebar mukanya, merah warna kulitnya seakan-akan wajahnya seperti perisai dan sifat-sifat lain


3.Imam Mahdi


Imam Mahdi atau Muhammad al-Mahdi, “Seseorang yang memandu” adalah seorang muslim berusia muda yang akan dipilih oleh Allah untuk menghancurkan semua kezaliman dan menegakkan keadilan di muka bumi sebelum datangnya hari kiamat.

Nama Imam Mahdi sebenarnya seperti yang disebutkan dalam hadist di atas, ia bernama Muhammad (seperti nama Nabi Muhammad), nama ayahnya pun sama seperti nama ayah Nabi Muhammad SAW yaitu Abdullah. Nama Imam Mahdi sama persis dengan Rasulullah SAW yaitu Muhammad bin Abdullah.

Dalam hadist yang disebutkan di atas Imam Mahdi akan memimpin selama 7 atau 8 atau 9 tahun. emasa kepemimpinannya Imam Mahdi akan membawa kaum muslimin untuk memerangi kezaliman, hingga satu demi satu kedzaliman akan tumbang takluk dibawah kekuasaanya.

Kemenangan demi kemenangan yang diraih Imam Mahdi dan pasukannya akan membuat murka raja kezaliman (Dajjal) sehingga membuat Dajjal keluar dari persembunyiannya dan berusaha membunuh Imam Mahdi serta pengikutnya.


4.Dajjal


Dajal adalah seorang tokoh kafir yang jahat dalam Eskatologi Islam, ia akan muncul menjelang Kiamat. Dajjal pembawa fitnah di akhir zaman, menurut Al-hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda: “”Sejak Allah swt menciptakan Nabi Adam a.s. sampai ke hari kiamat nanti, tidak ada satu ujian pun yang lebih dahsyat daripada Dajjal” Nabi Muhammad SAW mengingatkan para pengikutnya untuk membaca dan menghafal sepuluh ayat pertama dari Surat Al-Kahfi sebagai perlindungan dari Dajjal, dan kalau bisa berlindung di kota Madinah dan Mekkah, karena Dajjal tidak akan pernah bisa masuk kota tersebut yang dijaga oleh para malaikat.

Rasulullah juga mengingatkan para pengikutnya untuk berdoa, “Ya Allah! Aku berlindung dengan-Mu dari bencana Dajjal.” Dia juga menyatakan tidak ada musibah yang lebih hebat daripada bencana yang ditimbulkan Dajjal sejak penciptaan Nabi Adam hingga Hari Kebangkitan.


5.Azazil


Azazil adalah nama asli dari Iblis yang merupakan bapak dari bangsa jin,sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa nama asli Iblis adalah al-Harits.

Menurut syariat Islam `Azazil adalah pemimpin kelompok syaitan dari kalangan jin dan manusia. Menurut keyakinan agama Islam bahwa sebelum diciptakannya Adam, Azâzîl pernah menjadi Imam para Malaikat (Sayyid al-Malaikat) dan Khazin al-Jannah (Bendaharawan Surga) Sebelum dilaknat oleh Allah, Azazil memiliki wajah rupawan cemerlang, mempunyai empat sayap, banyak ilmu, terbanyak dalam hal ibadah serta menjadi kebanggan para malaikat dan dia juga pemimpin para malaikat karubiyyuun dan masih banyak lagi.

Setelah ia enggan untuk bersujud kepada Adam, Allah mengubahkan mukanya pada asalnya yang sangat indah cemerlangan menjadi bentuk seperti babi hutan.


Allah mengubah kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya.

Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai. Azâzîl diberi umur hingga hari akhir kiamat. Dengan janji untuk menyesatkan manusia sebanyak mungkin dan menemaninya di neraka Jahannam kelak.


6.Anqa’


Anqa’ adalah seekor burung besar misterius dalam mitologi Islam. Burung itu disebutkan namanya dalam buku karya Zakariya al-Qazwini yang berjudulʿAja’ib al-Makhluqat wa-Ghara’ib al-Mawjudāt (Makhluk-makhluk Ajaib dan Hal-hal Aneh yang Ada). Burung raksasa ini pernah dikisahkan oleh al-Kisa’i, bahwa burung tersebut pernah ada pada zaman Nabi Hanzhalah dengan umatnya yang disebut Ashab ar-Rass, ia berhasil membunuh burung ini dengan cara meminta do’a kepada Allah Swt untuk mematikan dan memutuskan keturunannya.

Burung ini sering di identikkan dengan burung Simurgh dari Persia dan Phoenix dari Mesir kuno. Menurut manuskrip kuno berupa teks Arab kuno dari Timur Tengah, legenda burung kolosal ini dikisahkan memiliki tubuh sangatlah besar, sehingga sanggup membawa seekor gajah dengan cakarnya yang tajam.

Sumber-sumber kuno ini menjelaskan bahwa burung Anqaʾ pernah dipercaya sebagai makhluk mulia yang diciptakan oleh Tuhan. Al-Kisa’i mengisahkan bahwa burung ini tinggal di sebuah gunung tinggi yang bernama Gunung Falaj. Apabila burung itu terbang, maka ia sanggup menutup matahari seperti awan. Bulunya memiliki warna yang sangat banyak, lehernya seperti leher unta, memiliki empat sayap, dua panjang serta dua lagi ukurannya lebih pendek.

Begitulan Allah ciptakan makhluk dan keajaiban keajaiban pada akhir zaman, bahwa apa yang di firmankanNya merupakan bukti bukti kebenaranNya, semoga di berkahi.




MAKAN DAN MINUM DENGAN TANGAN KIRI, HUKUMNYA ADALAH...

Diantara adab yang diajarkan Islam ketika makan atau minum adalah makan dan minum dengan tangan kanan. Dan Islam melarang makan atau minum dengan tangan kiri. Dan sangat disayangkan sekali sebagian kaum Muslimin tidak mengindahkan adab yang indah ini.

Anjuran makan dan minum dengan tangan kanan
Ketahuilah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam biasa menggunakan tangan kanan untuk sebagian besar urusannya yang baik-baik. Sebagaimana hadits ‘Aisyah radhiallahu’anha:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ فِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam membiasakan diri mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam setiap urusannya” (HR. Bukhari 168).

Termasuk juga dalam masalah makan dan minum beliau senantiasa mendahulukan tangan kanan. Sebagaimana juga diceritakan oleh sahabat Umar bin Abi Salamah radhiallahu’anhuma:
: كُنْتُ غُلاَمًا فِي حِجْرِ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَال لِي رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ، وَكُل بِيَمِينِكَ، وَكُل مِمَّا يَلِيكَ
Sewaktu aku masih kecil, saat berada dalam asuhan Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam, pernah suatu ketika tanganku ke sana ke mari (saat mengambil makanan) di nampan. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “wahai bocah, ucaplah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu, serta ambil makanan yang berada di dekatmu”. (HR. Bukhari no.5376, Muslim no.2022)

Ini juga berlaku ketika minum, berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiallahu’anhuma:
إذا أَكَلَ أحدُكُم فليأكلْ بيمينِهِ . وإذا شرِبَ فليشربْ بيمينِهِ . فإنَّ الشَّيطانَ يأكلُ بشمالِهِ ويشربُ بشمالِهِ
“jika seseorang dari kalian makan maka makanlah dengan tangan kanannya dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya” (HR. Muslim no. 2020).

Perhatikan bahwa hadits-hadits di atas menggunakan kata perintah كُل بِيَمِينِكَ (makanlah dengan tangan kananmu), فليأكلْ بيمينِهِ (makanlah dengan tangan kanannya). Dan hukum asal dari perintah adalah wajib.

Maka sudah sepatutnya setiap Muslim memperhatikan adab ini dan tidak meremehkannya, jika ia memang bersemangat untuk menaati Allah dan Rasul-Nya serta bersemangat untuk meneladani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Hukum makan dan minum dengan tangan kiri

Setelah mengetahui pemaparan di atas, lalu bagaimana hukum makan dan minum dengan tangan kiri? Adapun makan dan minum dengan tangan kiri ketika ada udzur, maka hukumnya boleh. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:
الأكل باليد اليسرى بعذر لا بأس به، أما لغير عذر فهو حرام
“makan dan minum dengan tangan kiri ketika ada udzur hukumnya tidak mengapa, adapun jika tanpa udzur maka haram” 1

Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah (6/119) juga disebutkan:
فَإِنْ كَانَ عُذْرٌ يَمْنَعُ الأَْكْل أَوِ الشُّرْبَ بِالْيَمِينِ مِنْ مَرَضٍ أَوْ جِرَاحَةٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ فَلاَ كَرَاهَةَ فِي الشِّمَال
“jika ada udzur yang menghalangi seseorang untuk makan atau minum dengan tangan kanan, semisal karena sakit atau luka atau semisalnya maka tidak makruh menggunakan tangan kanan”

Dan kami tidak mengetahui adanya khilaf diantara para ulama mengenai hal ini.

Sedangkan makan dan minum dengan tangan kiri tanpa udzur, ada dua pendapat ulama dalam masalah ini:
Pendapat pertama, hukumnya makruh. Ini adalah pendapat Syafi’iyyah dan Hanabilah.
صَرَّحَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ بِأَنَّهُ يُكْرَهُ الأَْكْل وَالشُّرْبُ بِالشِّمَال بِلاَ ضَرُورَةٍ
“Syafi’iyyah dan Hanabilah menegaskan bahwa makruh hukumnya makan dan minum dengan tangan kiri ketika tidak dalam keadaan darurat” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 45/294).
Diantara ulama masa kini yang menguatkan pendapat ini adalah Syaikh Shalih Alu Asy Syaikh dan Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahumallah. Mereka memaknai dalil-dalil larangan makan dan minum sebagai larangan yang sifatnya bimbingan yang tidak sampai haram, namun makruh lit tanzih. Hal ini ditunjukkan dalam sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam :
يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ، وَكُل بِيَمِينِكَ، وَكُل مِمَّا يَلِيكَ
“wahai bocah, ucaplah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu, serta ambil makanan yang berada di dekatmu”

dalam hadits ini Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan perkara-perkara yang hukumnya mustahab bukan wajib menurut mereka2.

Pendapat kedua, hukumnya haram. Ini adalah pendapat para ulama muhaqiqqin seperi Ibnu Hajar Al Asqalani, Ibnul Qayyim, Ibnu ‘Abdil Barr, Ash Shan’ani, Asy Syaukani dan juga para ulama besar zaman ini seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, dan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Umar radhiallahu’anhuma:
إذا أَكَلَ أحدُكُم فليأكلْ بيمينِهِ . وإذا شرِبَ فليشربْ بيمينِهِ . فإنَّ الشَّيطانَ يأكلُ بشمالِهِ ويشربُ بشمالِهِ
“jika seseorang dari kalian makan maka makanlah dengan tangan kanannya dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya” (HR. Muslim no. 2020).

Dalam hadits ini terdapat dua poin: perintah makan dengan tangan kanan dan larangan makan dengan tangan kiri.
Juga hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
لا تأكلوا بالشِّمالِ ، فإنَّ الشَّيطانَ يأكلُ بالشِّمالِ
“janganlah kalian makan dengan tangan kiri karena setan makan dengan tangan kiri” (HR. Muslim 2019)

Pendapat kedua adalah pendapat yang rajih, yang sesuai dengan dalil-dalil yang tegas memerintahkan makan dengan tangan kanan ditambah lagi dalil-dalil yang tegas melarang makan dan minum dengan tangan kiri.
Andaikan hanya ada dalil perintah makan dan minum dengan tangan kanan, maka itu sudah cukup kuat untuk mengharamkannya. Sebagaimana kaidah:
الأمر بالشيء نهي عن ضده
“perintah terhadap sesuatu, merupakan larangan terhadap kebalikannya”

Namun dalam masalah ini tidak hanya ada dalil perintah makan dan minum dengan tangan kanan, bahkan juga terdapat dalil larangan makan dan minum dengan tangan kiri. Sehingga lebih tegas lagi keharamannya.

Jangan meniru setan!

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:
فَإِنَّ الْآكِلَ بِهَا، إِمَّا شَيْطَانٌ وَإِمَّا مُشَبَّهٌ بِهِ
“yang makan dengan tangan kiri, kalau ia bukan setan maka ia menyerupai setan” (Zaadul Ma’ad, 2/369)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan: “makan dan minum dengan tangan kiri ketika ada udzur hukumnya tidak mengapa, adapun jika tanpa udzur maka haram. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melarangnya, beliau bersabda:
إن الشيطان يأكل بشماله ويشرب بشماله
‘sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya‘

dan Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya ia menyuruh kepada perbuatan buruk dan kemungkaran” (QS. An Nur: 21)
Kemudian, setan itu senang jika anda makan dengan tangan kiri anda, karena itu artinya anda telah mengikuti setan dan menyelisihi Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Maka ini bukan perkara remeh! Jika anda makan atau minum dengan tangan kiri, setan sangat bergembira karena perbuatan tersebut. Ia gembira karena anda telah mencocoki dirinya dan menyelisihi Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Maka ini bukan perkara remeh! Oleh karena itu wajib bagi para penuntut ilmu untuk melarang orang-orang awam melakukan perbuatan ini.
Banyak orang yang kita dapati ketika makan, mereka minum dengan tangan kiri. Kata mereka: “nanti gelasnya kotor”. Padahal kebanyakan gelas sekarang terbuat dari kertas yang hanya sekali pakai saja. Maka jika demikian biarkan saja ia terkena noda (dari bekas makan). Kemudian, masih memungkinkan anda memegangnya pada bagian bawahnya diantara telunjuk dan ibu jari, kemudian meminumnya. Lalu andaikan alternatif-alternatif barusan tidak memungkinkan, maka biarkan saja gelasnya terkena noda nanti bisa dicuci, ini bukan hal yang musykilah.
Karena selama seseorang itu tahu bahwa melakukan hal tersebut hukumnya haram dan berdosa jika minum dengan tangan kiri, maka yang haram itu tidak boleh dilakukan kecuali darurat”3

Khan cuma makruh?
Sebagian orang ada yang beralasan “bukankah sebagian ulama hanya memakruhkan, tidak mengharamkan?”.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan: “sebagian ulama memang berpendapat makruh. Namun, wahai saudaraku, saya nasehatkan anda dan yang lainnya, ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, janganlah anda mengatakan ‘bukankah sebagian ulama berpendapat begini dan begitu?‘. Para ulama berfatwa sesuai pemahaman mereka. Terkadang mereka mengetahui dalilnya, namun salah dalam memahaminya. Dan terkadang mereka tidak mengetahui dalilnya, dan terkadang dalil dalam suatu masalah itu khafiy (samar).

Bukankah para sahabat Nabi pernah tidak mengetahui hadits tentang tha’un? Ketika Umar bin Khathab berangkat menuju Syam, ada yang mengabari beliau bahwa di Syam sedang ada tha’un (wabah penyakit). Lalu beliau berdiri dan bermusyawarah dengan para sahabat. Lalu datang juga kaum Muhajirin dan Anshar yang turut berdiskusi dalam ruangan. Mereka semua ketika itu tidak tahu tenatng hadits tha’un! Namun walhamdulillah, Allah memberi taufiq kepada mereka untuk kembali dan tidak melanjutkan perjalanan. Yaitu melalui Abdurrahman bin Auf radhiallahu’anhu yang meriwayatkan hadits tersebut, yang awalnya ia tidak hadir di rombongan. Namun kemudian ia datang dan menyampaikan hadits tersebut. Semua sahabat ketika itu tidak tahu haditsnya, dan padahal ketika itu jumlah mereka terbatas (sedikit). Maka bagaimana lagi ketika umat sudah tersebar dan ulama juga sudah tersebar? Maka tidak semestinya kita menentang sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan perkataan ‘apa dalam masalah ini ada khilaf?‘ atau ‘bukankah sebagian ulama berpendapat begini dan begitu?‘. Jika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda kepada kita:
لا يأكل أحدكم بشماله، ولا يشرب بشماله؛ فإن الشيطان يأكل بشماله ويشرب بشماله
‘janganlah kalian makan dan minum dengan tangan kiri karena setan makan dan minum dengan tangan kiri‘

maka habis perkara. Jika seorang mukmin disuruh memilih, apakah anda lebih suka dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ataukah lebih suka dengan jalannya setan? Apa jawabnya? Tentu akan menjawab, saya lebih suka dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam”4

Selain itu, andaikan seseorang menguatkan pendapat makruhnya hal ini, maka yang makruh itu hendaknya dijauhi. Ketika para ulama mengatakan hukumnya makruh, maka mereka menginginkan orang-orang menjauhi hal tersebut, bukan malah melakukannya apalagi menjadikannya kebiasaan. Bukankah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
الحَلاَلُ بَيِّنٌ، وَالحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى المُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ: كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى، يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ
“Yang halal itu jelas, yang haram itu jelas. Diantaranya ada yang syubhat, yang tidak diketahui hukumnya oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa menjauhi yang syubhat, ia telah menjaga kehormatan dan agamanya. Barangsiapa mendekati yang syubhat, sebagaimana pengembala di perbatasan. Hampir-hampir saja ia melewatinya” (HR. Bukhari 52, Muslim 1599)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي من ابْن آدم مجرى الدم
“Sesungguhnya setan ikut mengalir dalam darah manusia” (HR. Bukhari 7171, Muslim 2174)

Al Khathabi menjelaskan hadits ini:
وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ مِنَ الْعِلْمِ اسْتِحْبَابُ أَنْ يَحْذَرَ الإِنْسَانُ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ مِنَ الْمَكْرُوهِ مِمَّا تَجْرِي بِهِ الظُّنُونُ وَيَخْطُرُ بِالْقُلُوبِ وَأَنْ يَطْلُبَ السَّلامَةَ مِنَ النَّاسِ بِإِظْهَارِ الْبَرَاءَةِ مِنَ الرِّيَبِ
“Dalam hadits ini ada ilmu tentang dianjurkannya setiap manusia untuk menjauhi setiap hal yang makruh dan berbagai hal yang menyebabkan orang lain punya sangkaan dan praduga yang tidak tidak. Dan anjuran untuk mencari tindakan yang selamat dari prasangka yang tidak tidak dari orang lain dengan menampakkan perbuatan yang bebas dari hal hal yang mencurigakan” (Talbis Iblis, 1/33)

Kesimpulan
Wajib makan dan minum dengan tangan kanan dan haram hukumnya makan dan minum dengan tangan kiri. Dan makan dan minum dengan tangan kiri adalah perbuatan setan. Pendapat yang menyatakan makruh adalah pendapat yang lemah, namun andaikan seseorang mengambil pendapat ini maka tetaplah hendaknya ia menjauhinya bukan malah melakukannya.

Semoga bermanfaat, nas-alullah at taufiq was sadaad.


Artikel Muslim.Or.Id
Penulis: Yulian Purnama

Friday, 12 January 2018

3 TANDA-TANDA KIAMAT YANG SUDAH MUNCUL DI MEKKAH..WALLAHU A'LAM.

Tanda-tanda kiamat, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kini sudah muuncul di Mekkah. Kiamat memang merupakan hal ghaib. Tidak pernah ada yang tahu bila kiamat akan terjadi kecuali hanya Allah subhanahu Wa Ta'ala.



Namun, utusan-utusan Allah seperti para Rasul dan Nabu telah di beri kisi-kisi oleh Allah mengenai tanda-tanda yang akan terjadi sebelum kiamat tiba. Hal ini dilakukan bukan bertujuan untuk menakut-nakutkan manusia, namun lebih dari itu adalah agar manusia sedar bahawa dunia bukanlah tempat tinggal yang abadi, semua yang ada di dunia ini akan hancur dan musnah jika hari kiamat itu tiba.

Selain itu, jika seorang muslim percaya akan terjadinya kiamat, maka dia akan lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan di dunia ini, selalu berbuat baik dan benar, selalu beramal soleh dan meningkatkan ketakwaannya kepada Allah subhanahu Wa Ta'ala.

Setidaknya ada 3 tanda-tanda kiamat yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shallallahua alaihi wasallam, dan sekarang tand-tanda itu sudah muncul di Mekkah. Apa tanda tersebut? di bawah adalah penerangannya.

1. Orang-orang Arab berlumba-lumba meninggikan bangunan di Mekkah.

Kiamat adalah ketetapan Allah dan itu pasti terjadi. Namun, tidak ada satu orang pun yang mengetahui bila kiamat itu akan terjadi termasuk malaikat Jibril sekalipun.

Namun Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam telah memberikan banyak gambaran tentang tanda tanda yang mendekati terjadinya hari kiamat. Salah satu adalah orang-orang Arab berlumba-lumba dalam membangunkan bangunan yang tinggi.

Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,

"Akan tetapi aku akan menyebutkan kepadamu tanda-tanda...(lalu beliau menyebutkan, di antarannya:) jika para penggembala kambing berlumba-lumba meninggikan bangunan, maka itulah di antara tanda-tandanya." (HR.Bukhari-Muslim)

Sementara dalam riwayat Muslim diungkapkan:

"Dan engkau menyaksikan orang yang tidak memakai sandal, terlanjang lagi miskin yang menggembala domba, berlumba-lumba membuat bangunan tinggi".

Dan dijelaskan dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu 'Abbas Radiallahuanhuma- , beliau berkata:

"Wahai Rasulullah, dan siapakah para penggembala, orang yang tidak memakai sandal, yang lapar dan miskin itu? Beliau menjawab, "orang Arab". (Musnad Ahmad IV/332-334,no.2926)

Foto dibawah ini sudah cukup untuk membuktikan kebenaran hadits Rasulullah diatas.


2. Gunung-gunung di Mekkah Mula Berlubang


Salah satu tanda-tanda kiamat, yaitu jika gunung-gunung di kota mekkah sudah banyak yang berlubang. Hal ini tentu tidak masuk akal jika difahami pada masa kehidupan Nabi bersama sahabatnya. Namun ternyata hal itu sudah terjadi sekarang ini.

Gunung-gunung di Kota Mekkah sekarang sudah banyak berlubang dalam bentuk terowong. Sejak pembangunan besar-besaran oleh dinasti Saudi, Mekkah diberi nama dengan kota terowong kerana memiliki ratusan terowong. Di tahun 2011, Mekkah sudah membuat 55 terowong melalui pergunungan dan sejumlah ruas jalan.

Ibnu Syaibah meriwayatkan dengan sanadnya kepada Ya'la ibn Atha' dari ayahnya, dia berkata: pada suatu hari, aku menuntut kekang unta Abdullah ibn Amr, lalu beliau berkata: "Bagaimana pendapat kalian, jika kalian hancurkan Ka'abah dan tidak menyisakan
batu yang masih menumpuk? Mereka menjawab: oleh kita yang beragama Islam?

Beliau menjawab: Benar, kalian yang beragama Islam. Seseorang bertanya: lalu apa lagi?
Beliau menjawab: Kemudian ia akan dibangunkan dengan lebih bagus darinya. Apabila kalian telah lihat gunung-gunung di Mekkah mulai berlubang, dan bangunan-bangunannya menjulang tinggi melebihi pergunungannya, ketahuilah bahawa kiamat sudah dekat.

3. Bayangan Ka'abah tidak lagi terlihat


Suatu ketika, Nabi Muhammad Shallallahu alihi wasallam pernah menjelaskan pada sahabatnya, bahawa kiamat akan terjadi jika As-Sa'ah telah membentangkan bayangannya sehingga bayangan Ka'abah tidak dapat dilihat. As-Sa'ah sendiri merupakan salah satu kata kiasan untuk kiamat.

Sementara itu, dalam bahasa arab, As-sa'ah bermaksud sebagai jam. Kerana itu boleh menyebabkan kiamat terjadi jika bayangan menara jam telah menutupi Ka'bah sehingga bayang Ka'bah tidak lagi terlihat.

Dan faktanya, sekarang bayang-bayang menara jam dati Hotel Royal Clock Tower Mekkah memang sudah menutupi Ka'bah.

Hal ini dikuatkan pendapat Imam Ash Shan'ani Rahimullah, Beliau pernah berkata: "Nanti akan datang suatu zaman dimana Jabal Qubais alan dibelah dan dibuat bangunan, kemudian di dekatnya terdapat sebuah bangunan yang tinggi melebihi menara Masjidil Haram, di saat itulah akhir zaman sudah dekat.

Wallahu A'lam"


Sumber:

http://www.kabarmakkah.com

MENERIMA HADIAH DARI ORANG NON-MUSLIM, DALILNYA ADALAH...

Memberi hadiah, saling mengunjungi, dan mengucapkan selamat kepada non muslim termasuk bentuk kebaikan yang dianjurkan oleh agama. Allah SWT telah memerintahkan kepada kita agar berucap dengan kata-kata yang bagus kepada semua manusia tanpa pandang bulu.


Allah berfirman,

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Dan berkatalah yang bagus kepada semua manusia. (QS. al-Baqarah: 83).

Allah juga berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ

Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan berbuat baik. (QS. An-Nahl: 90).

Allah SWT tidak pernah melarang kita untuk berbuat baik kepada kaum non muslim, berhubungan dengan mereka, memberi atau menerima hadiah dari mereka.

Allah berfirman,

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Nabi Muhammad SAW adalah manusia mulia yang telah mempraktekkan perintah ini, juga perintah-perintah Allah yang lain. Nabi Muhammad SAW ibarat Al-Qur’an yang berjalan, Wakaanal Qur’anu khuluqohu daa’iman (HR Ahmad dan Al-Baihaqi). Telah diriwayatkan bahwa nabi Muhammad SAW telah beberapa kali menerima hadiah dari orang non muslim.

Pernah suatu ketika Rasulullah SAW mengutus Hatib bin Abi Balta’ah kepada seorang raja yang bernama Muqoukis. Hatib menyerahkan serat yang dititipkan oleh Rasulullah kepada Muqouqis, Ia pun menerimanya dengan senang hati. Muqoukis sangat menghormati dan memuliakan Khatib.

Raja itu memberinya hadiah sebuah sajadah bagus kepada Hatib. Selain itu ia juga memberinya hadiah 2 perempuan cantik kepada Rasulullah SAW, yang pada akhirnya satu menikah dengan Rasulullah, dan yang lain menikah dengan sahabat Jahm bin Qoiy al-‘Abdari (dari kitab Al-Ishabah dan Al-Isti’aab).

Contoh yang lain adalah kisah Islamnya Salman al-Farisi rodliyallahu ‘anh. Ketika ia datang ke Madinah, Salman segera menjumpai Rasulullah SAW. Ia datang dengan membawa kurma lalu meletakkannya dihadapan Rasulullah SAW. Nabi bertanya kepada Salman, “apa yang kau bawa itu?”, Salman menjawab, “ini adalah sedekah untukmu dan sahabat-sahabatmu wahai nabi”, nabi berkata, “bawalah kembali, sesungguhnya kami tidak memakan sedekah”.

Salman pun membawanya kembali. Hari berikutnya Salman membawa sesuatu yang sama seperti kemarin, lalu meletakkannya di hadapan Rasulallah SAW. Nabi berkata, “apa ini wahai Salman?”, “ini adalah hadiah untukmu wahai Rasulullah”, Nabi berkata kepada para sahabat, “mari kita makan”. (HR. Ahmad, Al-Hakim).

Contoh lainnya, kisah yang diriwayatkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anh. Ia berkata, “para kaisar dan raja-raja memberikan hadiah kepada Rasulullah dan beliau mau menerimanya”. (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Baihaqi).

Mengenai kisah Salman, Imam Al-Hafidz Al-‘Iraqi mengatakan bahwa pada kisah ini terdapat ajaran tentang bolehnya menerima hadiah dari orang kafir. Sebab ketika itu Salman belum masuk Islam. Salman baru masuk Islam setelah ia mengetahui 3 tanda kenabian yang ada pada diri Muhammad SAW yaitu; penolakannya akan sedekah, memakan hadiah, dan cincin kenabian. (Tarkhut tastriib).

Sesungguhnya hukum bergaul dan mengunjungi orang non muslim itu boleh. Bahkan perbuatan itu termasuk bagian dari sunah nabi. Sahabat Anas bin Malik berkata, “Nabi Muhammad SAW pernah mengunjungi seorang laki-laki yahudi yang melayani nabi”. (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi).

Para ulama kemudian memahami hadits-hadits ini lalu membuat kesimpulan bahwa menerima hadiah dari orang kafir dan mengunjunginya tidak hanya perbuatan yang disenangi, tetapi itu termasuk bagian dari sunah nabi Muhammad SAW. Syekh Zakaria al-Ansori berkata, “boleh hukumnya menerima hadiah dari orang non muslim karena alasan mengikuti perbuatan nabi Muhammad SAW”. (Asnal Mathalib).

Setelah menyebutkan firman Allah,

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang kafir yang tidak memerangi kamu dan tidak mengusirmu dari rumahmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil. (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Ibnu Muflih kemudian berkata, “Ibnu al-Jauzi berkata, ‘para ahli tafsir berkata; ‘ayat ini adalah rukhsoh (keringanan) dalam hal bolehnya berhubungan dan berbuat baik kepada orang kafir yang tidak berbuat jahat kepada kita. Syekh al-Mardawi di dalam kitabnya al-inshof juga menyebutkan bahwa hukum mengucapkan selamat, mendatangi orang yang meninggal dunia, menjenguk orang yang sakit, memberikan hadiah adalah boleh.

Di dalam kitab al-fatawa al-hindiyah juga disebutkan bahwa tidak apa-apa hukumnya bertamu ke rumah orang kafir dzimmi (yang tidak memerangi) -meskipun diantara keduanya tidak berhubungan dekat-. Di sana juga disebutkan bawa tidak apa-apa hukumnya saling bersilaturrohmi antara orang muslim dengan orang musyrik -baik hubungan antar keduanya itu dekat maupun jauh, baik itu kafir dzimi atau kafir harbi (yang diperangi)-”.

Di dalam kitab fathul ‘aliyyul malik ‘ala madzhabil imam Malik, Syekh ‘Alis pernah ditanya mengenai hukum mengucapkan selamat kepada orang non muslim, “apakah hal itu bisa menjadikan seseorang menjadi murtad?”, lalu beliau menjawab, “seseorang tidak akan menjadi murtad hanya karena mengucapkan ‘semoga engkau diberikan keselamatan’, dengan syarat tidak memiliki niat dan tujuan mengagungkan orang kafir atau meridloi kekafirannya”.

Dari ayat Al-Qur’an, al-Hadits, maupun pendapat-pendapat para ulama di atas dapat kita simpulkan, bahwa tidak apa-apa bagi seorang muslim untuk berbuat baik kepada orang kafir, Baik itu mengunjungi, ta’ziyah, mengucapkan selamat, memberi hadiah, menerima hadiah, bertamu, dan lain sebagainya.

Dan semua ini pada hakikatnya membawa misi dakwah untuk menarik mereka mengenal agama Islam melalui keindahan akhlak dan sifat-sifat yang mulia. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan



Sumber: http://www.embunhati.com/menerima-atau-memberi-hadiah-kepada-non-muslim-mana-dalilnya/

Thursday, 11 January 2018

HUKUM DOKTOR LELAKI MENYAMBUT KELAHIRAN BAYI

Tidak dibenarkan di sisi Hukum Syarak bagi lelaki untuk melihat kepada aurat wanita ajnabi, melainkan terdapat ḥājah (keperluan) dan ḍarurah (keperluan mendesak) untuknya. Antara bentuk pengecualian ialah rawatan al-faṣdu (venesection, venipuncture, phlebotomy), berbekam, dan rawatan am. Ini kerana jika diharamkan akan mendatangkan ḥaraj (kesukaran) sedangkan ḥaraj dihilangkan oleh Syarak.


Justeru harus bagi lelaki merawat wanita dan wanita merawat lelaki, dengan syarat

Jika wujud perawat yang muslim, maka tidak boleh digantikan.
Ditemani oleh mahram, suami atau wanita yang thiqah (terpercaya).
Ketiadaan perawat wanita, atau perawat lelaki bagi pesakit lelaki.
Perawat boleh melihat kepada bahagian-bahagian badan selama mana ada keperluan kepadanya. Ini berdasarkan hadis Jabir RA:
أَنَّ أُمَّ سَلَمَةَ اسْتَأْذَنَتْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحِجَامَةِ فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَا طَيْبَةَ أَنْ يَحْجُمَهَا قَالَ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ كَانَ أَخَاهَا مِنَ الرَّضَاعَةِ، أَوْ غُلَامًا لَمْ يَحْتَلِمْ

Maksudnya: “Bahawa Umm Salamah (isteri Nabi SAW) meminta izin daripada Rasulullah SAW untuk berbekam lalu Nabi meminta Abu Taibah untuk menjalankan rawatan bekam ke atas Umm Salamah.”

Berkata Jabir: “Aku kira bahawa Abu Taibah itu adalah saudara susuan Umm Salamah atau budak kecil yang belum baligh.”

Hadis riwayat Muslim (2206)

Rujuk al-Mu`tamad fi al-Fiqh al-Syafie oleh Syeikh Muhammad al-Zuhaili (4/50); Fiqh al-Manhaji (1/126-127)



Berkata Syeikh Mulla Ali al-Qari Rahimahullah bagi syarah hadis ini:

قد صرح علماؤنا بأن غير المحرم أيضا عند الضرورة يحجم ويقصد ويختن وقال الطيبي - رحمه الله - : يجوز للأجنبي النظر إلى جميع بدنها للضرورة وللمعالجة

Maksudnya: “Telah dijelaskan oleh para ulama kita bahawa sekalipun bukan mahram boleh untuk menjalankan rawatan bekam, fasdu, dan khitan.” Berkata al-Taibi Rahimahullah: “Dibenarkan bagi lelaki ajnabi untuk melihatkan pada sekalian tubuh wanita bagi tujuan darurat dan rawatan.” Rujuk Marqah al-Mafatih ٍ (no. 3103)

Justeru, termasuklah dalam kategori rawatan ini ialah menyambut kelahiran kerana ia melibat nyawa ibu dan anak jua. Kami syorkan hendak semua dawabit atau syarat-syarat yang dinyatakan di atas hendaklah dipatuhi bagi memastikan ketenangan bagi pihak pesakit, hospital dan keluarga.

Wallahua’lam.

semoga dengan penjelasan mengenai hukum ini, kita akan lebih faham serta tidak lagi timbul keraguan atau perbalahan antara satu sama lain.


Baca lebih lanjut di: www.muftiwp.gov.my

HUKUM MELURUSKAN RAMBUT ADALAH HARAM SEKIRANYA...

“Allah ‘Azza Wa Jalla melaknat orang yang mentatu dan yang meminta ditatukan, yang mencukur alisnya (bulu kening) dan menjarangkan giginya untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Sumber gambar: beranidakwah.com

Bagi mereka yang mengharuskan rebonding berhujah bahawa larangan dalam hadis tersebut bermaksud mengubah struktur dan fungsi ciptaan Allah secara kekal. Manakala rebonding bukan mengubah struktur dan fungsinya yang asal malah masih dalam konteks tidak kekal dan sangat berkait dengan kaedah dan tata cara menguruskan rambut. Lebih-lebih lagi dalam konteks berhias kepada suaminya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas pernah berkata:

“Sesungguhnya aku berhias untuk isteriku sebagaimana aku suka dia berhias untukku. Sebagaimana aku suka menuntut semua hakku daripadanya, aku juga menyempurnakan semua haknya daripadaku“.


Pada hemat saya, untuk menentukan sama ada amalan tersebut termasuk diharuskan atau sebaliknya beberapa aspek perlu diteliti;

1. Niat dan tujuan
Sekiranya bertujuan untuk kecantikan diri, ianya masih dalam ruang lingkup perkara yang diharuskan lebih-lebih lagi berhias untuk suami. Sabda nabi saw yang bermaksud : “Sesungguhnya Allah itu cantik dan sukakan kecantikan“. Namun dalam waktu yang sama kita perlu mengakui hakikat di sebalik hikmat Allah menciptakan manusia dalam pelbagai bentuk dan rupa wajah dan kita diciptakan dengan secantik kejadian. Maka jika tujuannya untuk berhias di luar rumah maka sudah pasti hukumnya adalah haram.

2. Bahan yang digunakan
Bahan yang digunakan mestilah suci dan bersih dari sudut syara`. Ini bermaksud jika bahan yang digunakan terdiri daripada bahan kimia, maka pengesahan status halalnya perlu dirujuk kepada pihak berwajib. Begitu juga dari sudut kalis air atau sebaliknya. Hal ini perlu dipertimbangkan kerana ia melibatkan hukum mandi wajib dan berwudhuk iaitu memerlukan rambut tersebut dibasahkan. Ini beerti jika bahan kimia tersebut kalis air maka hukumnya haram sekalipun suci dan bersih.

3. Siapa yang melakukan proses rebonding?
Proses rebonding tersebut hendaklah dilakukan oleh rakan sejantina. Dengan itu tidak harus jika yang melakukan rebonding tersebut seorang lelaki sekalipun ditemani oleh suaminya kerana perbuatan tersebut telah mendedahkan aurat kepada orang yang diharamkan melihat auratnya. Persoalan lain juga yang harus difikirkan mengenai hukum mendedahkan aurat kepada wanita bukan Islam dalam keadaan yang bukan diperlukan atau “ dharuri”.

4. Kesan
Antara perkara yang perlu dipertimbangkan, adalah kesan langsung atau sampingan akibat melakukan rebonding. Secara ikhlas, saya tiada mempunyai maklumat mendalam mengenai kesan sampingan penggunaan bahan kimia berkenaan. Tetapi secara prinsipnya, jika penggunaan tersebut memberi kesan negatif sama ada secara langsung atau jangka panjang maka hukumnya adalah haram berasaskan hadis nabi saw: لا ضرر ولا ضرار yang bermaksud “jangan kamu melakukan kemudharatan dan mendatangkan kemudharatan” .

Semoga garis panduan yang diberikan dapat membantu saudari membuat keputusannya.

والله أعلم بالصواب

Disediakan oleh:
Ustaz Dr Ridzuan Ahmad
Ahli Panel MUIS


Baca selanjutnya di : http://muis.org.my/2010/08/hukum-melakukan-rebonding/

Wednesday, 10 January 2018

16 NAMA SYAITAN DAN TUGASNYA!!!

Memang sudah menjadi hikmah Allah Taala dan bersesuaian dengan konsep ujian di dunia, manusia tidak dibiarkan begitu sahaja untuk mengikut dan mematuhi kehendak peraturan dan disiplin syariat yang telah digariskanNya. Sememangnya dari asal lagi manusia telah membuat perakuan di hadapan Allah bahawa  Dia adalah Tuhan yang sebenar dan tidak ada tuhan lagi selain daripada Nya. Sekali pandang apabila manusia sudah membuat pengakuan sebegitu maka sudah pasti dia akan mematuhi segala perintah dan larangan Allah. Akan tetapi, jika kita perhatikan realiti yang berlaku di dinia ini ialah  kebanyakan manusia tidak berjaya melaksanakan suruhan Allah dan meninggalkan laranganNya.



Kegagalan manusia mematuhi perintah Allah samada dalam bentuk suruhan atau larangan ini adalah disebabkan oleh manusia itu sentiasa berdepan dengan musuh yang sentiasa berusaha menghalangnya daripada mengikut jalan Allah yang lurus. Antara musuh manusia yang telah dinyatakan oleh Al-Quran dengan jelas ialah iblis atau syaitan (Muhammad Jamaluddin, 1996). Firman Allah mengisahkan episod permusuhan ini di dalam Al-Quran setelah Dia mengesahkan bagaimana iblis diusir daripada syurga diakibatkan keangkuhannya daripada sujud hormat kepada Nabi Adam:
“Iblis berkata, “Oleh kerana Engkau (Wahai Tuhan) menyebabkan aku tersesat (maka) sesungguhnya aku akan bersungguh-sungguh menghalangi mereka (daripada) jalanMu yang lurus”. “Kemudian aku datangi mereka, dari hadapan mereka serta dari belakang mereka, dan dari kanan mereka serta dari kiri mereka. (sehingga) Engkau tidak akan dapati kebanyakan mereka bersyukur”.
(Surah Al-A’raf: 16-17)

 Oleh kerana pengisytiharaan perang oleh iblis terhadap keturunan Adam, maka Allah telah memberitahu bahawa syaitan adalah musuh manusia yang nyata dan memerintahkan manusia menjadikan iblis/syaitan sebagai musuh. Firman Allah:
“Sesungguhnya syaitan adalah musuh bagi kamu, maka anggaplah dia musuh (yang mesti dijauhi). Sebenarnya dia hanya mengajak golongannya supaya menjadi daripada penduduk neraka yang menyala-nyala". (Surah Al-Fatir: 6)


Inilah 16 Nama Syaitan Dan Tugasnya Yang Perlu Kita Tahu | Berikut adalah 16 nama syaitan serta tugasnya untuk menyesatkan manusia terutamanya umat Islam:



1. Zalitun – Tugasnya menyuruh manusia gemar boros brbelanja tanpa had dan fikiran hanya ingat pada makanan dan minuman.

2. Watin – Tugasnya mendekati orang yang sedang ditimpa musibah agar bersangka buruk kepada Allah.

3. A’awar – Tugasnya menggoda raja dan orang besar agar zalim, rasa takbur dengan jawatan, membiarkan rakyat tanpa dibela dan tidak suka mendengar nasihat ulama. Menghias perempuan agar lelaki segera tergoda dan menggoda wanita agar mendekati lelaki yang dilihat menarik.

4. Hafaf – Tugasnya mengajak manusia berbuat maksiat, suka minum khamar dan berfoya-foya.

5. Murrah – Tugasnya mendekati ahli muzik agar selalu lalai dan leka dan melekakan pula para pengikut mereka. Juga menganggu ahli ibadat semasa sedang berwuduk agar membaziri, yakin menggunakan banyak air untuk berwuduk.

6. Masud – Tugasnya menyuruh manusia supaya selalu mengumpat, memfitnah dan adu domba, suka berdendam sesama manusia.

7. Dasim – Tugasnya memecahkan suami agar isteri suka bergaduh dan akhirnya membuat penyelasaian dengan cara bercerai. Menyuruh manusia marah bukan pada tempatnya dan kepada merah yang membawah dosa. Juga menampakkan cela adik-beradik sehinggah mudah bertengkar dan bermasam muka.

8. Walahan – Tugasnya menimbulkan rasa was-was dalam beribadat, khasnya ketika seseorang itu mengambil wuduk.

9. Lakhus -Tugasnya mengajak manusia agar menyembah selain daripada Allah.

10. Sabrum – Tugasnya mengajak manusia ke jalan yang jahat dan tidak sabar dengan ujian yang diterima.

11. Miswat/Maswat – Tugasnya mempercepatkan manusia untuk membuat maksiat dan suka kepada setiap perkara maksiat, disamping melengah-lengahkan berbuat amal soleh. Ia gemar membawa berita dusta dan gosip liar.

12. Zaktabur/Zaknabur/Zalanbur – Tugasnya menimbulkan raja ujub an taksub dengan segala kelebihan yang ada pada dirinya.

13. Khinzab – Tugasnya menganggu orang yang beribadat, khasnya yang bersembahyang dengan membuatkan menusia berasa was-was dengan amalan baik yang dilakukannya dan sentiasa cuba meruntuhkan keyakinan terhadap agama Islam yang dianutinya.

14. Laqnis – Tugasnya mengnggu orang yang bersuci dan berwuduk sehinggah jadi ragu dan tidak sempurna.

15. Abyadh – Syaitan yang paling berat godaannya, paling buruk sikapnya kerana tugasnya ialah menggoda para nabi dan rasul yang diutuskan kepada manusia.

16. Khannas – Syaitan yang menimbulkan was-was hati terhadap adanya Allah, Adanya perkara-perkara sam’iyat dan melahirkan hati manusia daripada menghianati Allah sepanjang masa.


Sumber:

http://www.islamituindah.my
http://www.jawi.gov.my